Saturday, February 17, 2018

Review: Etude House Natural Konjac Face Cleansing Puff




Konjac Sponge adalah sponge yang terbuat dari serat karet alami yang berasal dari akar tumbuhan Konjac. Benda ini biasanya digunakan untuk membersihkan bagian wajah dan tubuh. Awalnya gue gak terlalu kepengen pake konjac sponge. Menurut gue bikin ritual mandi tambah ribet. Cukuplah cuci muka pake tangan aja. Tapi mindset itu berubah sejak gue baca sebuah thread di grup kecantikan di Facebook. Banyak yang bilang kalo cuci muka dengan konjac sponge bikin kulit muka terasa lebih bersih, pori-pori jadi kelihatan mengecil yang bikin tampilan wajah lebih halus. Dih, baca kalimat semacem itu bikin hati gue mendidih...

Gue pernah beberapa kali liat konjac sponge tanpa merk (atau merk-merk cina) di toko centil. Teksturnya keras kayak batu yang bikin gue mikir apa gak sakit kalo buat cuci muka (iya, gue gak tau kalo harus direndem dulu...). Terus pas banding-bandingin harga ternyata banyak juga kosmetik Korea yang punya Konjac Sponge dan harganya beda tipis dengan yang ngga bermerk. Jadi gue pikir, ngapa ngga sekalian aja beli yang bermerk. Lebih jelas. Pilihan gue pun jatuh ke Etude House Natural Konjac Face Cleansing Puff ini. Pertama, dia paling murah. Kedua, warnanya putih. Katanya yang jenis putih ini cocok untuk kulit sensitif dan teksturnya lebih halus.






Etude House Natural Konjac Face Cleansing Puff ini dikemas dalam plastik bening dengan desain khas Etude House yang imut dan girly. Ketika sponge ini sampe (gue belinya online) gue agak surprise karena sponge-nya sudah dalam keadaan basah di dalam plastik. Ngga seperti sponge yang suka gue liat yang kering dan keras waktu baru beli. Pas gue baca review-nya sih ternyata emang begitu.

Karena dia basah begitu, awalnya gue sempet kuatir sponge-nya lembab dan berbau. Tapi ternyata ngga tuh. Pas gue buka aromanya seger dan nggak ada tanda-tanda jamuran. They must have done something awesome with the packaging!

Sponge-nya berbentuk dome. Satu sisi bulat, sedang sisi lainnya rata. Gue ngga terlalu ngerti apa bedanya antara kedua sisi itu, tapi gue rasa itu cuma desain supaya gampang dipegang. Warnanya putih, terasa kenyal, dan berpori besar. Memegang sponge ini seperti memegang kue mangkok tapi lebih kenyal lagi.

Kue ini sering jadi bekal makanan waktu gue TK...




Kira-kira begini penampakan sponge-nya pas pertama kali dibuka. Oh ya, dia juga dilengkapi dengan benang untuk menggantung.

Pas pertama kali dibuka seperti ini.




Ini adalah tampilannya setelah gue pake sekitar satu minggu. Ketika dia mengering, bentuknya lebih menciut dan mengeras. Pori-porinya pun otomatis mengecil.




Karena gue masih buta gimana cara pakai konjac sponge, jadi gue ikutin cara yang tercantum di bagian belakang kemasannya. Sama plek ketiplek.

Pertama basahkan sponge. Lalu oleskan pembersih wajah ke sponge atau langsung ke wajah (kalo gue langsung apply sabun muka ke sponge aja). Lalu gosokkan sponge perlahan ke wajah dengan gerakan memutar. Setelah itu bersihkan sponge dengan air mengalir dan peras sisa airnya. Simpan di tempat yang kering dan berventilasi.





Dalam keadaan basah kuyup, warna putihnya berubah menjadi sedikit transparan dan pori-porinya semakin membesar. Gue selalu mengoleskan sabun wajah ke bagian yang bulat karena setelah dibasahin terasa lebih halus dibanding bagian bawahnya. Saat menggosok, gue menekankan pada bagian sekitar hidung dan dagu karena area ini paling kasar dan banyak komedonya. 




Selama satu bulan cuci muka pakai Etude House Natural Konjac Face Cleansing Puff ini, gue merasa wajah lebih bersih dan lebih halus. Perubahan ini bahkan langsung terasa pada pemakaian pertama. Serius. Tampilan muka keliatan lebih cerah kayak habis maskeran, pori-pori juga kelihatan lebih sopan. Hanya saja pada bagian hidung dan dagu yang banyak komedo, gue belom merasakan perubahan berarti.

Setiap selesai dipakai, konjac sponge ini pasti gue bilas lagi dengan air mengalir sambil diperas-peras. Lalu untuk penyimpanannya, sesuai instruksi yang tertera di kemasan agar diletakkan dalam ruangan berventilasi, sponge ini gue tarok di kamar (meja rias tepatnya). Bukan digantung di kamar mandi. Nggak kok, kalo udah diperas, airnya nggak bakalan netes-netes.

Untuk umur pemakaiannya gue sih gak terlalu yakin berapa lamanya. Ada yang bilang sebulan, ada yang enam bulan. Cuma untuk amannya gue gak menyimpan sponge ini lebih dari sebulan. Jadi tiap abis gajian pasti beli untuk stok. 

Etude House Natural Konjac Face Cleansing Puff ini gue beli di online shop luar dengan harga sekitar Rp. 50.000-60.000 kalo dirupiahkan. Di online shop lokal sih harganya ngga jauh beda ya. Bahkan kalo beruntung, kamu bisa nemu seller yang jual dengan harga Rp. 40.000 saja.











Monday, January 22, 2018

Review: City Color Primer Oil and City Color Glow Primer Oil





City Color adalah merk kosmetik yang berasal dari USA yang terkenal dengan produk ramah di kantong. Kualitasnya sih lumayan. Salah satu produknya yang biki gue penasaran adalah City COlor Primer Oil. Nggak tau kenapa gue kepikiran mau beli City Color Primer Oil ini. Mungkin sedikit banyak gue terpengaruh sama para beauty influencer di Instagram yang suka pake foundation dengan meneteskan sebangsa minyak atau apa lah di wajah atau beauty sponge mereka, dan gue yakin itu bukan Bimoli. Di mata gue, urusan tetes-menetes minyak ini sungguhlah keren.

Pas mau beli pun gue agak bingung karena City Color Primer Oil ini ada dua: City Color Primer Oil dan City Color Glow Primer Oil. Bedanya cuma di 'glow'-nya itu. Cuma karena hasutan majemuk yang bersifat sporadis dan mematikan, akhirnya gue memutuskan untuk beli dua-duanya. Jadi di post kali ini selain untuk mereview kedua produk ini, juga untuk membandingkan antara keduanya. Kita mulai aja, tapi satu-satu yah.



City Color Primer Oil






City Color Primer Oil ini dikemas dalam botol kaca bening dengan tutup pipet berwarna hitam. Si pipet ini bikin produk jadi lebih higienis dan gampang kalo mau diaplikasikan, tinggal tetesin aja ke muka (yoi... kan gue bilang tetes-menetes itu adalah perkara yang keren). Untuk memastikan produk ini masih baru, ada semacam selotip berwarna silver di tutupnya. Kalo selotipnya masih lurus belom cacat, kemungkinan besar produk kamu masih perawan.

Sayangnya stiker labelnya samar banget jadi susah kefoto. Tapi mungkin catatan ini bisa membantu:

Octyldodecanol, Dicaprylyl Carbonate, Isododecane, Caprylic/Capric Triglyceride, Limnanthes Alba (Meadowfoam) Seed Oil (Limnanthes Alba Seed Oil), Hydrogenated Polyisobutene, Tocopheryl Acetate, Phenoxyethanol, Salicyloyl Phytosphingosine, Retinyl Palmitate, Arachis Hypogaea (Peanut) Oil (Arachis Hypogaea Oil), Ethylhexylglycerin, Fragrance (Parfum), Tocopherol.






Klaim produk ini yahud juga, selain sebagai primer oil juga bisa dipake untuk pelembab kulit, kutikula, dan rambut yang kering. Primer oil ini juga bisa dijadikan bahan campuran untuk produk-produk berbahan dasar oil seperti gel liner yang sudah mengering. Gue sendiri pakenya hanya sebagai primer oil di wajah sebelum pake foundation/BB cream. Gue ngga pernah pake ini sebagai campuran foundation karena tidak ada klaim yang menyebutkan demikian. Cuma kalo kalian mau pake seperti itu, ya silakan.

Tekstur produk ini berupa minyak yang encer dan bening, dengan aroma kayak musk gitu. Cuma baunya samar banget. 



Primer Oil-nya udah gue pindahin ke botol pipet kosong cyiiin.

Oh ya, sayangnya pas gue terima produk ini di rumah, pipetnya sudah dalam keadaan pecah. Sebetulnya masih bisa dipake, cuma gue ngeri karena pecahan pipetnya masih ngambang di dasar botol. Dan karena gue gak punya ilmu kebal, jadi gue putuskan untuk mendepot isinya ke dalam botol pipet kaca yag kosong.



City Color Glow Primer Oil








Untuk kemasan City Color Glow Primer Oil ini nggak beda jauh sama di atas, botolnya dari kaca bening juga. Cuma tutup pipetnya berwarna kombinasi putih dan rose gold. Produk ini mengandung glitter berwarna keemasan yang kalo mau tercampur harus dikocok dulu. Itu sebabnya foto produk ini beda-beda di tiap website, kadang bening, kadang keemasan.



Komposisi:
Dicaprylyl Carbonate, Caprylic/Capric Triglyceride, Ethylhexyl Palmitate, Octyldodecanol, Isododecane, Oryza Sativa (Rice) Germ Oil (Oryza Sativa Germ Oil), Limnanthes Alba (Meadowfoam) Seed Oil(Limnanthes Alba Seed Oil), Fragrance(Parfum), Phenoxyethanol, Tocopheryl Acetate, Synthetic Fluorphlogopite, Iron Oxides(CI 77491), Mica, Titanium Dioxide(CI 77891).







Untuk teksturnya juga ngga jauh beda. Yang membedakan benar-benar hanya partikel keemasan di dalam oil-nya. Citi Color Glow Primer Oil ini punya aroma kayak bunga mawar, sedikit lebih beraroma sih, cuma nggak tajam.

Kalo di foto bawah ini, sekilas kalian nggak akan menemukan perbedaan yang signifikan antara tekstur kedua produk ini. Hanya saja, City Color Glow Primer Oil memiliki kandungan glitter yang samar. Gue juga nggak merasa beda-beda amat pas diaplikasikan ke muka sih. Pas ditetesin ke tangan emang iya ada glitternya, cuma pas ditemplok ke muka ngga ngaruh amat.





Keliatan ngga glitter-nya?


Untuk Glow Primer Oil emang ngga punya banyak klaim seperti Primer Oil (yang bisa buat kuku, kulit, rambut, dll). Cuma kalo disuruh milih, gue lebih suka sama Glow Primer Oil karena bisa dijadikan dua fungsi. Kalo gue pengen muka berglitter dikit, botolnya tinggal gue kocok aja. Kalo ngga, ya jangan dikocok, tinggal ambil bagian atasnya aja. 

So far gue suka pake kedua produk ini, gue nggak perlu ribet pake pelembab lagi sebelom dandan. Tinggal pake sunscreen lalu pake oil ini. Foundation jadi keliatan lebih glowing dan gampang diblend. Meskipun dia oil tapi hasilnya ngga berminyak. Gue sih rekomen ini dipake buat kalian yang punya tipe kulit normal cenderung kering.

City Color Primer Oil dan City Color Glow PRimer Oil ini bisa kamu beli di online store di Indonesia dengan harga berkisar antara Rp. 80.000-Rp. 100.000/each (untuk isi 25 ml).





Tuesday, January 2, 2018

Review: Revlon Ultra HD Matte Lip Color in HD Temptation and HD Seduction



Post ini sudah bertahan cukup lama di draft blog gue. Bukan karena gue males menyelesaikannya, cuma karena kurang rajin aja. Hehehehe. Nggak deng. Sebenernya gue ragu mau nulis post ini atau ngga karena awalnya ngga begitu suka dengan hasilnya. Tapi setelah dipake beberapa kali, pendapat gue berubah dan memutuskan untuk menulis reviewnya. Bener juga apa kata Bu Bambang, kesan pertama nggak bisa dijadikan patokan. Bu Bambang itu siapa, gue juga ngga kenal.




Revlon Ultra HD Matte Lip Color ini dikemas dalam tube plastik bening yang matte. Yang bikin unik adalah tube-nya yang berbentuk oval. Bukan kotak atau bulat, tapi oval, jadi lebih enak digenggam dan ngga gampang gelinding.

Bentuk aplikatornya juga ngga kalah unik karena... ya seperti itu deh, bisa lihat sendiri kan di gambar kalo bentukya ngga kayak doe-foot pada umumnya. Bantalannya empuk dan ukuran tangkainya juga pas nggak kependekan atau kepanjangan.






Tekstur dari Revlon Ultra HD Matte Lip Color ini cukup kental dan terlihat kaya akan pigmentasi walaupun baru gue swatch ke tangan. Pada saat pengapalikasian pertama, akan tercium aroma manis seperti pencuci mulut beraroma buah. No, dia tidak berbau seperti vanila seperti kebanyakan produk sejenis. Aroma in akan hilang dengan sendirinya setelah dioles beberapa menit.



REVIEW-REVLON-ULTRA-HD-MATTE-LIP-COLOR-TEMPTATION-SEDUCTION-ESYBABSY


Gue kurang tahu ada berapa shade Revlon Ultra HD Matte Lip Color yang dikeluarkan dan berapa yang beredar di Indonesia. Kalo ngga salah sih ada 8 ya. Lalu baru-baru ini juga diluncurkan 4 varian metaliknya degan pilihan shade yang lebih berani seperti hijau toska. Cuma karena gue orangnya cemen, jadi gue memilih untuk beli dua warna aman aja yaitu HD Seduction dan HD Temptation.


REVIEW-REVLON-ULTRA-HD-MATTE-LIP-COLOR-TEMPTATION-SEDUCTION-ESYBABSY
Revlon Ultra HD Matte Lip Color in HD Temptation

TEMPTATION adalah warna pink barbie yang lucu imut ngeselin. Ini warna udah lama jadi inceran gue dan setelah membelinya gue nggak menyesal. Pink nya agak sedikit neon tapi nggak terlalu nyala banget kayak stabilo. 


REVIEW-REVLON-ULTRA-HD-MATTE-LIP-COLOR-TEMPTATION-SEDUCTION-ESYBABSY
Revlon Ultra HD Matte Lip Color in HD Seduction


SEDUCTION adalah sejatinya warna nude dengan nuansa cool tone. Ada sedikit sih warm ton alias peach-nya tapi ngga banyak. Ini warna paling aman dan cocok dipake untuk segala suasana.



***


Mungkin banyak yang penasaran sama produk ini, kok namanya matte tapi di swatch bibir gue jadinya masih keliatan basah-basah becek gitu. Itu juga yang terjadi waktu gue swatch produk ini pertama kali dan waktu itu gue merasa udah dikhianati dengan embel-embel 'matte' di nama produknya. Ternyata gue salah. Hasilnya emang beneran matte asal jangan ketebelan ngolesnya. Perlu waktu lumayan lama supaya dia berubah jadi matte. 

Hasil akhirnya juga bukan dead matte tapi velvet matte, masih transfer ya. Di bibir rasanya kayak pake lipstik creme biasa, jauh lebih nyaman dibanding pake matte lip cream yang anti badai itu. Cuma sayangnya di gue produk ini agak mengering dan menggumpal setelah dipake seharian, dan bisa dipastikan kalo bibir gue jadi kering setelah lipstik ini dihapus. Untuk daya tahannya sendiri cukup standar bisa tahan seharian walaupun agak pudar dikit di akhir hari. 

Revlon Ultra HD Matte Lip Color ini sa kamu beli di toko-toko kosmetik atau konter resminya seharga Rp. 110.000/buah.



Wednesday, December 13, 2017

Review: Max Up Suede Matte Lip in All Shades




Buat kalian yang hobi dengan dunia makeup dan sering ngebahas makeup dengan sesama penggila makeup, pasti merhatiin kalo akhir-akhir ini ada banyak merk lokal pendatang baru. Rata-rata yah, merk baru ini meluncurkan lipstik cair matte sebagai produk pertama mereka. Ngga tau kenapa. Pasti mereka udah bikin polling dulu dan saya yakin hasil poll-nya pasti banyak yang lebih sering beli 'abang bibir' ketimbang makeup lain. Kenapa bisa gitu? Apakah rakyat Indonesia memiliki krisis kepercayaan diri yang berhubungan dengan warna bibir asli mereka? Ah ya sudah, ngga penting.

Sebelom saya tambah ngelantur, ada baiknya kita kembali ke pokok permasalahan. Ada satu merk lokal baru yang baru aja meluncurkan produk liquid lipstick pertama mereka. Namanya Max Up Cosmetics dan produk baru yang pertama mereka luncurkan adalah Suede Matte Lip. Seperti apa performanya? Warnanya? Harganya? Mari kita bahas lebih jauh.






Max Up Suede Matte Lip ini dikemas dalam tabung plastik transparan dengan tutup berwarna silver. Nggak cuma tabung tapi mereka cuma mengemas produknya dalam kotak bernuansa merah putih yang elegan. Pas pertama lihat tabung lipstiknya, jujur aja mengingatkan saya akan desain matte lip cream-nya Colourpop.








Tangkai aplikatornya ngga terlalu panjang atau pencdek. Ujung aplikatornya juga standar aja bentuk doe-foot yang lumayan empuk. Cocok untuk menggambar hasil lipstik yang rapi. 





Max Up Suede Matte Lip sampai saat ini terdiri dari 4 macam warna yaitu Afternoon Tea, Dusty Rose, Smashing Pink, dan Cherry-O.


Afternoon Tea
Afternoon Tea




AFTERNOON TEA
 adalah warna nude kecoklatan dengan undertone putih. Jarang ada lipstik lokal warna coklat muda yang 'murni' seperti ini karena biasanya ada sentuhan peach/orange. Makanya ngga lebay kalo saya bilang warna ini bagus banget.



Dusty Rose
Dusty Rose

DUSTY ROSE mirip dengan Afternoon Tea, tapi bedanya yang ini memiliki undertone pink. Warna ini juga wajib kamu punya kalo suka sama warna nude karena cocok dipake kapan aja.



Smashing Pink
Smashing Pink

SMASHING PINK adalah warna pink terang dengan sedikit nuansa ungu. Saya kurang suka dengan tipe pink seperti ini karena jadinya agak neon dan ngejreng banget. Formulanya juga kurang asik karena susah diratain.


Cherry-O
Cherry-O



CHERRY-O adalah warna merah ceri. Merahnya ini fun dan lucu, jadi ngga keliatan kayak mamak-mamak banget gitu hehehe. Sayangnya lagi warna ini pigmentasinya juga kurang oke karena susah diratain. Saya juga heran sih karena biasanya lipstik merah paling bagus pigmentasinya.


***


Tekstur Max Up Suede Matte Lip ini creamy. Ada aroma vanilla ketika dioles, tapi ngga berlebihan, dan aroma ini akan menghilang setelah beberapa saat. Butuh waktu agak lama sampai Max Up Suede Matte Lip ini benar-benar mengering, mereka sendiri mengklaim butuh waktu sekitar 5 menit, walaupun pada kenyataannya ngga sampe selama itu juga sih. Begitu dia mengering hasil yang didapat adalah matte yang transferproof tapi ringan, ngga terasa kering karena mengandung moisturizer. Produk ini juga sudah memiliki label Halal ya, sayangnya saya lupa foto labelnya.

Pigmentasinya berbeda-beda untuk tiap warnanya, seperti yang udah saya jelaskan tadi. Warna nude asli bagus, tapi untuk warna bold-nya harus lebih ekstra hati-hati mengolesnya karena agak susah rata. Tapi untuk pemakaian sehari-hari hal ini sih ngga perlu dipermasalahkan, siapa juga yang mau liat bibir kamu deket-deket hahaha.

Max Up Suede Matte Lip ini cukup awet dipake seharian bahkan dipake makan berminyak pun dia masih stay dari pagi sampe sore. Agak pudar tapi dikit. Untuk menghapusnya, saya saranin sih biar afdol dihapus pake makeup remover berbahan dasar minyak biar gampang. Kalo saya pake minyak kelapa. Abis itu di-scrub lagi untuk menghilangkan sisa lipstik sepenuhnya.

Max Up Suede Matte Lip ini dijual secara online dengan harga Rp. 110.000/each.









Tuesday, November 28, 2017

Review: Posy Beauty Lip Cream in Pride


Ngga terlalu banyak keterangan yang bisa saya dapat tentang merk kosmetik Posy Beauty. Merk ini tergolong masih baru. Info yang sempet saya baca di web resminya cuma bahwa merk ini di-disain oleh dua orang bernama Diandra dan Manda pada September 2017 lalu. Dari nama pendirinya aja udah jelas ya kalo merk ini adalah asli buatan Indonesia. Sampai saat ini jenis kosmetik yang ditawarkan Posy Beauty masih sebatas lip cream saja, cuma sempet baca-baca statement kalo mereka akan mengeluarkan beberapa jenis makeup kit lagi. Well, we'll see about that!




Oke, pertama ngomongin kemasan. Saya pribadi suka banget dengan desain botolnya yang berbentuk pipih. Beda deh dengan produk sejenis yang biasanya berbentuk bulat atau kotak. Botolnya terbuat dari plastik bening dengan tutup berwarna hitam. Desain kotaknya sendiri didominasi dengan warna hitam dan ada sedikit bukaan di bagian depannya, jadi keliatan warna produk di dalamnya. Untuk netto-nya adalah 5,8 ml/each.

Hal penting yang sepertinya harus saya bahas tentang Posy Beauty Lip Cream ini adalah sertifikasi Halal dari MUI, vegan formula, dan cruelty free. No BPOM sudah pasti ada. Saya sangat menghargai effort mereka mendaftarkan produk ini untuk sertifikasi Halal, karena biasanya brand lokal cuma dilabeli no BPOM tanpa ada label Halal. Vegan formula dan cruelty free juga menjadi poin plus dari produk ini.








Posy Beauty LIp Cream terdiri dari lima jenis warna. Dua warna bold dan tiga warna nude. Semua warnanya masuk ke kategori warna yang aman dan cocok untuk hampir semua kulit orang Indonesia yang rata-rata bernuansa warm medium. Dari kelima varian warna itu, saya dapat kesempatan me-review warna Pride. Untuk label warnanya kamu bisa temukan di bagian dasar kotak dan botolnya.







Aplikator dari produk ini juga terbilang standar bentuknya, tapi lumayan enak dipake karena bantalannya cukup empuk dan panjang tangkainya juga pas, nggak terlalu panjang atau pendek. Pokoknya ga ada sesuatupun dari aplikatornya yang bisa membuat saya gagal mendapatkan hasil yang rata. Satu-satunya yang bisa bikin olesannya mencong mungkin cuma rasa lapar yang bikin tangan gemetar atau kalo pas make diburu-buruin orang suruh cepetan karena kalo telat dikit antrian tol keburu panjang. Atau lebih buruk, lagi pake lipstik lalu dikagetin. Kubenci...





Nah, membahas soal warna. Pride ini adalah warna merah gelap dengan warm undertone alias kecoklatan. Warna ini adalah satu dari dua warna bold Posy Beauty Lip Cream. To be honest, Pride is my favorite shade. Sempet ngarep bakal dapetin warna ini dan girang pas tau kalo beneran dapet.

Formula produk ini cukup bagus. Teksturnya sendiri berbentuk cair dengan perpaduan aroma vanila dan sedikit bau chemical. Cuma buat saya sih gak mengganggu. Setelah dioles beberapa menit, baunya hilang kok.





Untuk varian Pride ini pigmentasinya oke banget. Buat saya sih sekali atau dua kali celup udah bisa banget menutupi seluruh bibir. Di nggak menggumpal dan gampang banget rata. Cuma saya kurang tau ya gimana hasilnya dengan warna lain. Biasanya pigmentasi lipstik bisa beda kalo warnanya beda.

Nggak butuh waktu terlalu lama untuk lipstik ini berubah dari cair ke matte. Hasil akhirnya sendiri bukan dead matte tapi soft matte dan dia masih transfer ya walau nggak parah. DIpake makan asal gak barbar masih oke nempel seharian, tapi di bagian tengah bibir sempet luntur. Kalau mau di re-apply juga gampang karena formulanya soft banget di bibir.

Posy Beauty Lip Cream sendiri diklaim meiliki kandungan vitamin E yang merawat dan menutrisi bibir. Hal ini membuat lipstik ini nyaman banget di bibir, sama sekali nggak berasa kering walaupun dipake seharian. Sampe akhir hari pun hasil olesannya nggak menggumpal. Luntur sih pasti lah ya. Ini kan lipstik, bukan cat tembok.

Saya juga nggak kesulitan menghapus lip cream ini. Gampang banget dihapus pake VCO dan kapas. Pas dihapus juga kayak serpihan yang rontok gitu dan sama sekali nggak meninggalkan stain di bibir. Padahal ini warna merah loh.


Overall, saya suka pakai lip cream ini. Nyaman di bibir dan awet, walaupun sayangnya dia nggak transferproof. 

Posy Beauty Lip Cream ini bisa kamu dapatkan secara online di www.posybeauty.co.id atau di Instagram @Posybeauty.id seharga Rp. 149.000/each atau Rp. 699.000 untuk pembelian satu set isi 5 warna. Kamu juga bisa mendapatkannya di Sociolla, Shopee, blibli.com, dan hijup.com.

Instagram: @Posybeauty.id
Twitter: PosyBeauty_id